Senin, 18 Maret 2013

Gumoh Ganggu Pertumbuhan Si Kecil



Gumoh paling sering ditemukan pada bayi. Gumoh yang berlebihan dapat menyebabkan berbagai komplikasi yang akan mengganggu pertumbuhan bayi.
Sekitar 70 persen bayi berumur di bawah 4 bulan mengalami gumoh minimal 1 kali setiap harinya, dan kejadian tersebut menurun sesuai dengan bertambahnya usia hingga 8-10 persen pada umur 9-12 bulan dan 5 persen pada umur 18 bulan.
"Gumoh pada bayi bisa dianggap normal selama tidak mengganggu pertumbuhan," kata Dr Ferry, Sp.A. Gumoh atau regurgitasi terjadi karena beberapa sebab. Pertama, klep penutup lambung belum sempurna. Dari mulut, makanan atau susu masuk ke saluran pencernaan atas atau kerongkongan (esofagus), kemudian masuk ke lambung.
Di antara esofagus dan lambung terdapat klep penutup lambung. Pada bayi, klep ini biasanya belum sempurna, sehingga kalau minum ada sebagian susu yang kembali ke atas dan keluar dalam bentuk gumoh. Kalau keluar dalam bentuk gumoh, tidak apa-apa. Yang berbahaya adalah jika ditahan dan masuk ke paru, karena sudah mengandung asam lambung, sehingga bisa menimbulkan infeksi.
Dari lambung ke usus juga terdapat klep. Pada beberapa anak, biasanya klep terlalu pekat atau kental, sehingga susah terbuka. Ini akan kelihatan pada saat anak makan makanan padat, lalu muntah. Ini karena makanan yang padat tadi tidak bisa lewat.
Namun, seiring bertambahnya usia, muntah pada anak karena klep yang belum sempurna ini biasanya akan hilang. Meski begitu, anak harus tetap dilatih agar klep-nya gampang terbuka. Caranya dengan memberikan makanan sedikit demi sedikit.
Penyebab kedua gumoh adalah karena bayi suka menggeliat. Sehabis minum, biasanya si kecil akan langsung ditaruh di tempat tidur kemudian menggeliat. Ini akan membuat tekanan di dalam perutnya tinggi, sehingga keluar dalam bentuk muntah atau gumoh.
Peristiwa ini juga masih normal, sepanjang jumlah cairan yang masuk dan keluar seimbang. Muntah atau gumoh sekali atau dua kali sehari masih wajar, sampai anak berusia sekitar setahun. Tetapi kalau setiap kali makan ia muntah, berarti memang ada kelainan.
Buat Bersendawa
Untuk mengurangi gumoh, biasanya bayi dibuat bersendawa. Caranya, bayi digendong dalam posisi berdiri, kemudian tepuk-tepuk bagian punggung atasnya. Sebaiknya jangan langsung memberi minum banyak-banyak. Minum sedikit-sedikit, disendawakan, lalu minum lagi. Jadi, udara tak sampai paling bawah.
Cara lain yang perlu diupayakan bila mendapatkan bayi gumoh adalah menghilangkan gejala klinis yang dapat memberikan efek negatif, baik terhadap kesehatan maupun kualitas hidup bayi. Berbagai upaya dapat diberikan kepada orangtua dan bayi untuk mencegah keadaan yang berlanjut. Menghilangkan kecemasan orangtua merupakan langkah awal yang penting. Orangtua harus diyakinkan bahwa gumoh yang terjadi pada bayi merupakan hal yang normal.
Yang Harus Dilakukan
Jangan mengangkat anak saat gumoh atau muntah. Seringkali karena takut atau khawatir, para ibu kemudian mengangkat anak dari posisi tidurnya dengan maksud menghentikan gumoh atau muntah-muntah. Ini malah berbahaya, karena muntah atau gumoh bisa turun lagi, masuk ke paru dan akhirnya malah mengganggu paru. Bisa radang paru. Sebaiknya, miringkan atau tengkurapkan anak. Biarkan saja ia muntah sampai tuntas jangan ditahan.
Tak perlu cemas jika anak muntah lewat hidung. Lebih baik keluar dari hidung daripada dihirup masuk ke paru yang mengakibatkan infeksi. Beri minum sedikit demi sedikit, tapi sering. Selalu usahakan cairan yang masuk lebih banyak dibandingkan cairan yang keluar supaya tidak terjadi dehidrasi.
Selama muntahnya biasa, tidak menyemprot, tak usah khawatir. Baru jika anak tetap muntah dan muntahnya menyemprot, jumlah cairan yang dimuntahkan lebih banyak daripada yang masuk, segera konsultasi ke dokter.
Hati-hati memberi obat antimuntah tanpa pengawasan dokter karena ada efek sampingnya. Untuk mengurangi gumoh, biasanya bayi dibuat bersendawa. Caranya, bayi digendong dalam posisi berdiri, kemudian tepuk-tepuk bagian punggung atasnya. (cy, sumber: Ibu Anak)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar